PELALALAWAN (Fokusdiksi) — Sungai Kampar, urat nadi kehidupan Melayu Pelalawan, kembali mengirim isyarat pedih. Ribuan ikan mengambang tak bernyawa di Desa Sering, tanda bahwa sungai tua penuh sejarah itu kini mengerang dalam sakaratul maut ekologinya.
Aliansi Aktivis Peduli Kawasan Hutan (A2KH) menegaskan bahwa tragedi kematian ikan ini bukan musibah biasa, melainkan buah dari kerakusan industri yang menabur limbah ke badan sungai tanpa memikirkan nyawa yang bergantung padanya.
Dedi, Ketua A2KH sekaligus Putra Asli Sungai Kampar, menyatakan bahwa Sungai Kampar telah lama menjadi korban diam perusahaan besar.
“Air Sungai Kampar bukan sekadar air yang mengalir. Ia adalah darah leluhur, tempat kami mandi, tempat kami mencari makan, tempat kami menjaga marwah negeri. Jika hari ini ribuan ikan mati, itu tanda bahwa sungai kita sedang disiksa. Dan pelakunya jelas, limbah industri dari hulu telah meracuni kehidupan,” tegas Dedi dengan suara bergetar menahan amarah, Selasa (25/11).
Dalam verifikasi lapangan, pejabat DLH Pelalawan, Heri, membenarkan keberadaan tiga kanal pembuangan limbah industri yang langsung mengalir ke Sungai Kampar.
“Kanal pertama milik PT RAPP, kedua APR, dan satu lagi dari hulu milik PT IIS Buatan 2 yang mengalir melalui area HTI RAPP. Ada perbedaan jelas warna dan bau antara tiap kanal,” ungkap Heri.
Ia turut menyebut bahwa debit Sungai Kampar yang menurun drastis membuat daya tampung sungai kolaps, sehingga kemampuan sungai menetralkan limbah lenyap serupa harapan warga yang menyaksikan ikan mati bergelimpangan.
“Apakah industri berkontribusi terhadap krisis ini? Bisa saja. Kita perlu penelitian lebih lanjut,” ujar Heri lagi.
Menanggapi pernyataan tersebut, Dedi mengecam keras sikap pemerintah daerah yang dianggap masih malu-malu menunjuk hidung pelaku utama.
“Jika bukti di depan mata saja masih diminta penelitian, apa lagi yang hendak ditunggu? Sungai sudah berubah warna, bau menyengat, ikan mati bergelimpangan, anak-anak menangis karena tak bisa mandi. Mau tunggu apa, air menjadi lumpur beracun?” katanya lantang.
Dedi meminta Pemerintah Provinsi Riau dan Kementerian Lingkungan Hidup turun langsung tanpa menunggu laporan meja.
Audit total pengelolaan limbah PT RAPP dan industri terkait, Hentikan pembuangan limbah ke Sungai Kampar hingga hasil audit diumumkan, Penegakan hukum lingkungan tanpa pandang bulu, Transparansi hasil laboratorium kualitas air
“Jangan korbankan negeri Melayu untuk kenyang perut oligarki,” tutup Dedi.
Sungai Kampar bukan sekadar aliran air. Ia adalah rakit kebudayaan, nadi ekonomi rakyat, dan saksi adat yang menjunjung langit. Jika sungai mati, matilah marwah anak negeri.
A2- PKH mendukung langkah Gakkum DLH untuk membuat terang benderang masalah ikna mati di Sungai Kampar.
"Kita sadari yang paling tahu soal lingkungan adalah DLH, untuk itu kita dukung mereka untuk mengungkapkan fakta sebenarnya,"pungkas Dedi ***