PELALAWAN, (Fokusdiksi) - Suara desakan dari masyarakat Kelurahan Pelalawan semakin keras menggema.
Setelah Dedi mengingatkan pemerintah soal hak tanaman kehidupan, kini giliran Liaz Abnur, putra asli Kelurahan Pelalawan, yang angkat bicara dengan nada lebih tegas dan menohok.
Menurutnya, ironi besar sedang terjadi di negeri sendiri, pemimpin daerah berasal dari Kelurahan Pelalawan, tetapi masalah rakyat Kelurahan Pelalawan sendiri tidak juga selesai.
Liaz dengan nada kecewa menyebutkan bahwa seharusnya pemimpin yang berasal dari tanah Pelalawan punya ikatan batin, kepekaan, dan keberpihakan lebih kuat kepada masyarakatnya sendiri.
"Bupati itu orang asli Kelurahan Pelalawan. Sekda pun orang Kelurahan Pelalawan. Dua orang anggota dewan itu jugo orang Kelurahan Pelalawan.
Tapi dek awak, kenapo masalah segini tak kunjung selesai? Di mani hati nurani mereka sebagai anak negeri? ujarnya dengan nada tinggi," Rabu (3/12).
Liaz menegaskan bahwa masyarakat Kelurahan Pelalawan sudah terlalu lama menjadi korban janji yang tak pernah dijemput kepastian.
"Kalau Sesama Anak Negeri Pun Tak Bisa Membela, Lantas Siapo Lagi?"
Ia mempertanyakan, bagaimana mungkin pemimpin yang lahir, tumbuh, dan dibesarkan dari tanah Pelalawan yang rumah orang tuanya mungkin hanya sepelemparan baru dari kampung masyarakat justru diam dalam persoalan sebesar ini.
"Kalau sesamo anak negeri pun tak bisa membela, lantas siapo lagi? Kami tak butuh pidato manis. Kami butuh ketegasan!" tegasnya.
Menurut Liaz, masyarakat bukan meminta sesuatu yang sulit, mereka hanya menuntut hak yang telah dijanjikan sejak belasan bahkan puluhan tahun lalu.
"Jangan Sampai Rakyat Menangis di Negeri Sendiri"
Liaz juga menyebut bahwa pemerintah seharusnya punya keberanian untuk menghadapi perusahaan - perusahaan besar, bukan justru seolah menjaga jarak dari rakyatnya sendiri.
"Jangan sampai rakyat menangis di negeri sendiri. Perusahaan itu besar, tapi negara lebih besar. Bupati harus berdiri di depan, bukan bersembunyi di belakang alasan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah seharusnya suda lama membuka forum terbuka, mengundang masyarakat, perusahaan, dan pemerintah provinsi, untuk memutus persoalan yang mengedap lebih dari tiga dekade.
"Bupati Harus Turun, Bukan Menghilang"
Liaz mendesak agar Bupati Pelalawan turun tangan secara langsung, bukan sekedar menitipkan persoalan ini pada staf.
"Turun bang! Turun Langsung. Jangan diam. Jangan hilang. Ini suara rakyat. Ini negeri awak sendiri," Kata Liaz dengan nada penuh emosi.
Desakan demi desakan kini datang bukan hanya dari tokoh, tapi dari generasi asli kampung itu sendiri.
Masyarakat Kelurahan Pelalawan menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti bersuara sampai hak tanaman kehidupan benar - benar diwujudkan.
Fokusdiksi akan terus mengawal suara rakyat, sebab dalam adat Melayu
"Negeri berdiri karena rakyatnya, dan pemimpin mulia karena keberpihakanya."***