Opini Oleh: Iswadi M. Yazid
Di tengah riuhnya peringatan Hari Santri Nasional yang saban tanggal 22 Oktober senantiasa dirayakan dengan kirab budaya, pawai bersarung, upacara bendera, dan rentetan pidato seremonial pejabat yang mengulang-ulang narasi heroik Resolusi Jihad 1945, sebuah tanda tanya kritis nan mendasar patut disodorkan secara jujur: apakah masyarakat kontemporer di era sekarang sesungguhnya masih sungguh-sungguh memerlukan keberadaan santri di tengah perputaran kehidupan mereka?
Gugatan ini sangat beralasan untuk diangkat ke permukaan karena peradaban masa kini telah terkepung oleh percepatan teknologi digital yang sanggup merombak cara manusia mencari rujukan; tatkala siapa pun dapat mengakses dalil agama, terjemahan kitab suci, fatwa keagamaan, serta komparasi pemikiran lintas mazhab hanya dengan mengetikkan sebaris kalimat di layar gawai pintar melalui bantuan mesin pencari cerdas dan perangkat kecerdasan buatan, maka klaim eksklusivitas santri sebagai pemegang ilmu seketika menghadapi ujian relevansi yang sangat nyata.
Terlebih lagi, lembaga pendidikan umum modern dan universitas terapan tampak melatih keahlian teknis yang jauh lebih gesit untuk diserap pasar tenaga kerja industri, sehingga jika kiprah kaum santri hanya dipersempit sebatas kemampuan membaca teks Arab gundul tanpa harakat atau sekadar figur pelengkap untuk membaca doa keselamatan dalam hajatan kampung, peradaban modern tentu tidak lagi terlampau menggantungkan masa depannya kepada mereka, mengingat sistem komputasi data dan kecerdasan artifisial sanggup merangkum ribuan halaman literatur klasik secara cuma-cuma dalam hitungan detik.
Namun demikian, realitas sosiologis masyarakat modern justru menyingkapkan pemandangan getir yang sarat ironi, di mana limpahan data dan kemudahan teknologi ternyata berjalan beriringan dengan paceklik hati nurani, kelangkaan keteladanan akhlak, serta krisis kejujuran batin, sehingga kepintaran otak yang berjalan tanpa kompas moral justru melahirkan aneka persoalan sosial baru yang menggerus sendi-sendi kemanusiaan, dan pada celah krisis etika inilah kehadiran santri menjelma menjadi kebutuhan primer yang tidak mungkin digantikan oleh barisan algoritma komputer mana pun.
Kebutuhan nyata pertama bermula dari kekacauan ruang digital akibat banjir informasi tanpa saringan yang menyuburkan era pascakebenaran, di mana pesan keagamaan kerap dimutilasi menjadi cuplikan video pendek demi mengejar algoritma ketertarikan penonton dan tombol suka, yang pada gilirannya mengaburkan esensi ajaran, memantik salah paham, menyulut pertikaian antarkelompok warga, serta diperparah oleh fenomena halusinasi kecerdasan buatan yang kerap merangkai jawaban fiktif berbalut dalil palsu yang tampak meyakinkan di permukaan; situasi genting ini membutuhkan bekal metodologis santri yang sejak awal ditempa melalui tradisi keilmuan yang sangat berhati-hati, berakar pada sanad guru yang jelas, rujukan kitab yang otoritatif, serta ketelitian mengurai konteks sebab musabab turunnya dalil dan kemaslahatan publik, sehingga santri dapat mengambil peran sebagai penyaring akal sehat yang membentengi nalar masyarakat agar tidak gampang diadu domba, tidak tergesa-gesa menyebarkan desas-desus dusta, dan tidak serampangan menghakimi sesama hanya berlandaskan sepotong teks yang berseliweran di media sosial.
Kebutuhan vital kedua bertumpu pada urgensi menghadirkan benteng moral di hadapan gaya hidup serbamaterialistis yang mereduksi segala sendi pergaulan menjadi sekadar kalkulasi laba dan rugi secara uang, di mana interaksi antarmanusia berubah menjadi sangat dingin, berjarak, dan penuh pamrih hingga seseorang kerap hanya dihargai manakala memiliki harta bertumpuk, jabatan struktural yang mentereng, atau pengaruh kekuasaan semata, sementara ketulusan orang kecil kerap diabaikan; dampak buruk dari cara pandang yang mendewakan kebendaan ini telah terbukti nyata meremukkan ketahanan keluarga di akar rumput, mulai dari jeratan utang pinjaman daring ilegal berbunga mencekik akibat dorongan konsumerisme semu, maraknya wabah judi daring yang meluluhlantakkan masa depan generasi muda di pelosok desa hingga sudut kota, sampai maraknya korupsi yang diperbuat oleh orang-orang berpendidikan tinggi akibat tiadanya rasa takut kepada Tuhan dan rasa puas dalam jiwa.
Di bilik-bilik asrama pesantren yang bersahaja, santri justru dilatih menghidupi jalan kesederhanaan, kebiasaan hidup prihatin, dan kerelaan berkhidmah melayani sesama tanpa pamrih kebendaan, sebuah laku hidup yang menanamkan kesadaran batin bahwa derajat kemuliaan insani tidak pernah ditentukan oleh mewahnya pakaian atau tumpukan aset duniawi, melainkan oleh ketulusan niat dan kemanfaatan nyata bagi sesama hamba; nilai keikhlasan inilah yang menjadi penawar dahaga di tengah tatanan dunia yang serba transaksional, membuktikan bahwa kehormatan nurani dan berkah kehidupan tidak akan pernah bisa ditukar dengan materiil atau popularitas sesaat.
Kebutuhan penting ketiga berakar pada mandat merawat persaudaraan dan keutuhan bangsa di tengah ancaman polarisasi sosial yang kian tajam, di mana sebagian masyarakat terjerumus pada pemahaman keagamaan yang kaku, picik, dan gemar mengkafirkan pihak yang berbeda amaliah, sementara di kutub lainnya terdapat arus kebebasan individual tanpa batas yang menanggalkan tata krama serta adab ketimuran; kedua kutub ekstrem ini kerap dipelihara dan digoreng di jagat maya demi kepentingan politik sektarian serta keuntungan ekonomi pemilik panggung digital, yang apabila dibiarkan tanpa penengah akan meretakkan bangunan kebinekaan tanah air.
Santri memiliki modal kultural yang amat kokoh melalui pengajaran fikih klasik yang sarat akan dialektika perbedaan pendapat, mendidik mereka untuk selalu mengambil jalan tengah yang santun, adil, berimbang, dan penuh tenggang rasa, sehingga perbedaan sudut pandang dipandang sebagai rahmat yang memperkaya wawasan tanpa perlu merusak tali kebangsaan; watak moderat yang mendarah daging ini memosisikan santri sebagai jembatan silaturahmi yang menyejukkan, meredam prasangka buruk di ruang publik, serta menyatukan kembali elemen-elemen bangsa yang terfragmentasi.
Meski demikian, pengakuan atas urgensi peran santri tidak boleh dipahami sebagai cek kosong yang turun secara cuma-cuma tanpa pembuktian nyata, sebab masyarakat tentu tidak membutuhkan santri yang bersikap pasif, berdiam diri di balik sekat menara gading pesantren, atau sekadar membanggakan kebesaran sejarah masa lampau tanpa mau membasahi kening dengan keringat kerja nyata; oleh karena itu, kaum santri hari ini dituntut menuntaskan tiga agenda transformasi konkret, yakni pertama, turun langsung membina perekonomian masyarakat bawah melalui pembentukan koperasi syariah, pendampingan usaha mikro kecil, serta edukasi literasi keuangan keluarga yang sehat agar masyarakat lapis bawah terbebas dari perangkap rentenir dan jerat judi digital; kedua, mematahkan rasa rendah diri terhadap teknologi dengan aktif mempelajari ilmu sains, komputer, data, dan kecerdasan buatan guna membanjiri ruang digital dengan narasi keagamaan yang teduh, berbobot, dan mencerahkan, sekaligus meluruskan kabar bohong yang meracuni pikiran warga; serta ketiga, mengimplementasikan nilai kebersihan dan pelestarian lingkungan hidup ke dalam aksi riil, mulai dari pengelolaan sampah mandiri di pondok, perlindungan daerah aliran sungai, hingga reboisasi hutan demi menjaga kelestarian bumi tempat sujud manusia.
Menjawab keraguan apakah santri masa kini masih dibutuhkan, kesimpulannya terpampang dengan sangat benderang bahwa peradaban manusia hari ini justru semakin mendambakan kehadiran mereka, bukan semata-mata karena identitas pakaian sarung, peci hitam, atau atribut lahiriah yang mereka kenakan, melainkan karena muatan nilai integritas, kebersihan kalbu, dan welas asih tulus yang terpatri di dalam dada mereka; sebab betapapun tingginya gedung pencakar langit yang sanggup didirikan oleh teknologi modern, secanggih apa pun mobil nirawak yang dirancang peradaban, atau secepat apa pun data komputasi diproses, mesin buatan tangan manusia selamanya tidak akan pernah memiliki nyawa, tidak sanggup merasakan kegetiran air mata fakir miskin, dan tidak mengenal getaran rasa malu serta takwa di hadapan Sang Pencipta; sehingga selama kebohongan publik masih memangsa orang awam, selama ketidakadilan struktur masih menindas hak-hak kaum lemah, dan selama peradaban manusia masih merindukan ketenteraman jiwa, teladan hidup santri yang jujur dan tulus akan terus menjadi lentera penuntun yang menjaga nurani bangsa agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya di tengah deru kemajuan zaman yang dingin.
Wallahu a’lam.